Ali Ngabalin Sebut Jokowi Itu Dikawal Allah

Situasi politik menjelang Pilpres 2019 membuat Presiden Joko Widodo menguatkan barisannya di Istana Negara. Ia pun menunjuk politikus Golkar Ali Mochtar Ngabalin sebagai salah satu tenaga ahli di Kantor Staf Kepresidenan (KSP)

Sebagai penggawa di Deputi IV KSP, yang membidangi komunikasi, Ngabalin bertugas menyampaikan capaian-capaian pemerintah kepada masyarakat luas. Namun, belum lama menjalankan tugasnya, ia sudah rajin menangkis serangan-serangan pihak oposisi.

“Saya memilih jalur itu. Saya mau berada di sini, dan kalaupun saya tidak di sini, saya akan memberikan dukungan kepada Jokowi-JK,” kata Ngabalin.

Berikut ini cuplikan wawancara Detik dengan Ali Ngabalin di kantornya, gedung Bina Graha, kompleks Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat, 25 Mei 2018.

Apakah Anda dilantik oleh Presiden?
Tidak ada pelantikan, diberi SK saja. Terus kan diterima Pak Presiden. Sehari sebelum ketemu Pak Presiden itu (Selasa, 22 Mei), Koordinator Staf Khusus, Pak Teten Masduki, mengumpulkan semua staf khusus, ditambah dua orang tenaga ahli utama dari KSP, yaitu saya bersama Pak Juri.

Datanglah kami, dikasih pengarahan mengenai tugas. Pertama itu analisis politik, komunikasi politik, akselerasi kelembagaan, masalah hukum, dan pemilu. Dan terakhir penulisan pidato. Besoknya Pak Jokowi berkenan menerima kami.

Jadi tugas pokok Anda apa? Apa beda dengan jubir Presiden?
Jubir Presiden itu lain. Saya kan di Deputi IV KSP. Jadi kami di sini menyiapkan bahan-bahan untuk nanti ditransfer ke Deputi, dari Deputi ke Kepala Staf. Nah, mungkin akan dikirim ke Staf Khusus Presiden dan seterusnya.

Tapi Anda punya kewenangan untuk bicara mewakili Presiden?
Inilah yang saya mau bilang. Memang dalam rapat dengan Presiden itu, setelah dijabarkan oleh Koordinator Staf Khusus, di bidang komunikasi politik itu saya, Ibu Rohaini, dan Profesor Ahmad, dalam waktu tertentu, saya bisa bicara keluar untuk dan atas nama Tenaga Ahli Utama KSP, untuk menjelaskan kepada masyarakat capaian-capaian pemerintah.

Artinya, saya pikir sah-sah saja, boleh bicara, dan itu perintah langsung, karena Presiden dalam pertemuan menghendaki agar “jangan (setelah) kita diserang, baru kita kalang kabut. Ini semacam orkestra. Jadi harus satu irama”. Saya bilang, “Bagi kami, ini adalah amanah dan Bapak tidak akan menemukan orang yang berkhianat di sini.” “Ya baguslah,” kata Presiden.

Anda dulu jadi timses Prabowo. Apa yang menyebabkan Anda berubah haluan?
Itu tadi seperti yang saya bilang, kan nyata yang dikerjakan Presiden itu. Saya pernah menjadi Wakil Ketua KONI DKI, saya menjadi Ketua Umum Persatuan Selam DKI, saya melihat perkembangannya nyata dan, masyaallah, kita kalau tidak dukung, saya boleh mengatakan saya zalim atas capaian-capaian Jokowi.

Jadi perubahan itu sudah terjadi dalam diri saya. Jadi sudah selesai pascahasil 2014 itu. Toh, saya bukan dari Gerindra. Teman memang teman, tapi kan pada pecah berantakan semua kan KMP itu. Dan kami masing-masing mengurus diri di samping Partai Golkar ada masalah internal yang cukup tajam.

Apakah pendukung Anda tidak kecewa mengingat 2014 Anda sangat vokal mendukung Prabowo dan mengkritisi Jokowi?
Mereka justru, kalau di daerah, kami baik di Maluku, Papua, Sulawesi, itu semua fatsunnya ke pemerintah. Mungkin ada satu-dua yang kecewa, yang konsekuensinya saya harus terima. Ada juga satu-dua yang memberikan penilaian yang miring. Itu no problem. Saya hadapi. Kan kita ini hidup tidak boleh dendam berlarut-larut.

Masak sih kita hidup dengan dendam dan kebencian? Masak kita hidup dengan munafik? Di depan kita marah-marahan, tapi di belakang kita negosiasi. Kenapa kita jadi orang munafik? Bela ya bela, tidak ya tidak. Nah, saya memilih jalur itu. Saya mau berada di sini, dan kalaupun saya tidak di sini, saya akan memberikan dukungan kepada Jokowi-JK.

Menurut Anda pribadi, Jokowi itu seperti apa? Anda pernah bilang Jokowi kerempeng….
Saya tidak kenal beliau ketika 2014 itu. Beliau pun tidak kenal saya. Tapi beberapa kali saya bertemu atau misalnya satu acara bareng, ya mungkin karena dia orang Solo, orang Jawa, dan, luar biasa, dia ramah (membungkuk-bungkuk). Jadi 2-3 kali bertemu, masyaallah, beliau ini. Saya menilai dia pemimpin.

Jauh sebelumnya saya bilang, “Suka tidak suka, kalau Jokowi jadi presiden, masak sih tidak ada campur tangan Tuhan?” Dan saya orang pertama di MK waktu itu yang mengatakan, “Hari ini sudah diputuskan di MK, sudah final. Kita harus mengumpulkan kekuatan untuk memberikan dukungan kepada pemerintahan Jokowi-JK agar bisa menjalankan amanah rakyat dengan baik.” Pernyataan itu saya ucapkan 1 jam setelah hakim MK mengetokkan palu.

Masalah Jokowi kerempeng itu konteksnya apa waktu itu?
Itu kan Ibu Mega bilang di acara pidato PDIP. Kalau tidak salah dalam bahasa Jawa itu bahasa ibu ke anaknya. Nah, cuma kalau itu terjadi yang di Papua itu, makanya saya tadi bilang di televisi, saya harus me-review itu lagi. Maka kita sebetulnya banyak membaca berita yang hoax sebenarnya. Jadi saya pikir itu sudah 4-5 tahun yang lalu.

Fasilitas apa saja yang didapat ketika menjabat Tenaga Ahli KSP?
Karena kami di eselon I-B, jadi masing-masing dapat kendaraan. Saya pakai itu kendaraan, kemudian dikasih BBM. Ya, begitu saja.

Apakah dengan ditariknya Anda ke lingkar Istana ini adalah langkah Jokowi dalam merangkul massa basis Islam atau kelompok 212?
Yang pasti, siapa saja boleh menilai. Sebagai kepala negara, kan beliau boleh menilai. Saya percaya, dalam langkah, sepak terjang, yang beliau lakukan, itu pasti mendapatkan tuntunan dari Allah SWT. Seorang pemimpin itu selalu dikawal oleh Allah.

Bahwa beliau memilih saya, karena apa? Tentu saya tidak bisa menceritakan seperti apa kapasitas dan kualifikasi ilmu, ya. Tapi saya dipercaya dan saya harus memberikan yang terbaik kepada Presiden. Tentu kehadiran saya adalah representasi dari komunitas yang saya pimpin, menjadi representasi dari kepentingan umat, dan itulah saya tak boleh jadi pengkhianat.

Sumber : kaffah*net

Bermanfaat? Yuk Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *